Lewati ke konten

‎15 Tahun Irigasi Air Buah Terbengkalai, 459 Hektar Sawah Terancam

Bagikan

Lebong, sapuanrakyat.com — Kecamatan Topos yang memiliki luas baku sawah mencapai 459 hektare sebagai salah satu sentra produksi padi di Kabupaten Lebong, kini menghadapi krisis serius. Irigasi utama yang mengairi lahan persawahan warga, yaitu Irigasi Air Buah, telah tidak berfungsi selama hampir 15 tahun akibat tertutup longsor. Akibatnya, ratusan hektar lahan pertanian perlahan terancam gagal panen.

‎Berdasarkan data Kecamatan Topos Dalam Angka dan penelitian pertanian Kabupaten Lebong, luas baku sawah di wilayah ini tercatat 459 hektare, dengan sebagian besar bergantung pada aliran Irigasi Air Buah. Selama ini, saluran sepanjang sekitar 3 kilometer tersebut menjadi urat nadi kehidupan petani di Desa Ajai Siang dan sekitarnya. Namun sejak tertimbun longsor, air tidak lagi mengalir ke lahan-lahan produktif tersebut.

Iklan
Iklan dalam artikel

‎”Setiap masa reses Anggota DPRD dan setiap kesempatan pertemuan dengan pemerintah kabupaten, kami selalu menyampaikan hal ini. Namun hingga saat ini belum ada perbaikan yang berarti. Sawah kami kering, benih tak bisa ditanam, dan kami tak bisa berbuat banyak,” ungkap perwakilan petani di Desa Ajai Siang.

‎Masyarakat Minta Presiden Prabowo Turun Langsung ke Topos

‎Keprihatinan yang mendalam kini mendorong warga menyampaikan harapan yang tulus — agar Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, berkenan meninjau langsung kondisi persawahan di Kecamatan Topos.

‎”Kami memohon, kiranya Bapak Presiden berkenan hadir melihat langsung bagaimana kondisi sawah kami. Tanpa air, kami tak bisa berproduksi. Padahal kami ingin berkontribusi mendukung program swasembada pangan yang Bapak Presiden gaungkan. Datanglah ke Topos, lihatlah sawah kami yang kini kering kerontang ini,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat dengan harap yang tinggi.

‎Warga menyampaikan bahwa usulan perbaikan irigasi ini sebenarnya sudah disampaikan ke berbagai pihak. Bahkan disebutkan adanya usulan anggaran rehabilitasi senilai Rp40 miliar untuk memperbaiki Irigasi Air Buah, namun hingga saat ini pengerjaan belum terlihat di lapangan.

Sudah 15 Tahun Menunggu

‎Irigasi Air Buah diketahui telah tidak berfungsi selama hampir satu dekade setengah. Berbagai upaya telah dilakukan masyarakat, mulai dari musyawarah desa hingga penyampaian usulan dalam forum-forum resmi pemerintah daerah. Namun penantian panjang ini belum membuahkan hasil yang nyata.

‎Petani berharap kunjungan Presiden ke lokasi ini dapat menjadi titik balik. Bukan hanya untuk mengalirkan dana perbaikan irigasi, tetapi juga untuk memastikan bahwa infrastruktur pertanian di daerah-daerah terpencil seperti Topos tidak lagi terabaikan.

‎‎”Kami tidak meminta yang muluk-muluk. Cukup air mengalir kembali ke sawah kami. Kami ingin menanam padi, memanen hasilnya, dan memberi makan keluarga kami. Itulah harapan terbesar kami,” tambah warga.

Tinggalkan komentar