Lewati ke konten
Iklan
Iklan header
Iklan
Iklan kiri
Iklan
Iklan kanan

Topos: Jejak Peradaban Tertua Suku Rejang yang Tersimpan di Pegunungan Lebong

Bagikan
Gambar Daerah Topos Sumber Gogle

LEBONG — Sapuanrakyat.com — Di pegunungan Kabupaten Lebong, tersimpan sebuah wilayah yang bukan sekadar kecamatan biasa, melainkan salah satu titik tertua peradaban Suku Rejang. Namanya Topos. Dikenal dalam sastra lisan Rejang sebagai salah satu dari enam perkampungan purba dalam pepatah: “Serambeak Bepun; Topos, Teluk Diyen, Amen, Semelako, Plabai, Das Tebing” — daftar tempat yang diakui sebagai akar mula kehidupan masyarakat Rejang di tanah ini.

Asal-Usul Nama: Tongkat yang Tumbuh Menjadi Pohon Topos

Baca Juga: Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Lebong Berlangsung Khidmat dan Penuh Kewibawaan

Nama “Topos” bukan lahir sembarangan. Menurut catatan sejarah yang diturunkan secara turun-temurun, daerah ini pertama kali dijadikan pemukiman oleh Bikau Bembo, tokoh pendiri yang dipercaya datang dan menetap di wilayah tersebut. Konon, ketika Bikau Bembo menancapkan tongkatnya ke tanah, tongkat itu hidup dan tumbuh menjadi sebatang pohon bernama pohon Topos. Sejak peristiwa itulah perkampungan ini dinamai Topos.

Iklan
Iklan dalam artikel

Bikau Bembo sendiri dikenal sebagai tokoh yang mewariskan sistem adat Marga Jurukalang — salah satu dari empat kesatuan masyarakat hukum adat Suku Rejang. Beliau menetap di wilayah yang kini masuk Kecamatan Topos, dan keturunannya menyebar ke berbagai penjuru Tanah Rejang .

Jejak Kekuasaan Lama: Dari Empat Ajai Hingga Kedatangan Belanda

Sebelum kekuasaan kolonial masuk, wilayah Topos dan sekitarnya berada di bawah kepemimpinan Ajai Siang, salah satu dari empat pemimpin adat bergelar Ajai yang mengatur masyarakat Renah Sekalawi — nama kuno wilayah Lebong. Sistem pemerintahan ini kemudian berkembang pesat ketika para Bikau datang dan menyatukan masyarakat dalam kesatuan Empat Petulai Rejang.

Catatan sejarah mencatat bahwa pada tahun 1866, kedudukan Residen Belanda sempat berada di Topos, sebelum kemudian dipindahkan ke tempat lain. Hal ini membuktikan bahwa Topos sejak lama telah menjadi pusat pertemuan dan pemerintahan di kawasan pedalaman Bengkulu. Seiring bertambahnya penduduk, dari Topos lahir pemukiman-pemukiman baru, antara lain Kutai Donok, Talang Balau, Suka Negeri, Tik Sirong, hingga Ajai Siang.

Pusat Adat Jurukalang yang Tetap Bertahan

Hingga kini, Topos tetap memegang kekhasan sebagai pusat masyarakat Marga Jurukalang. Sistem sosial masyarakatnya masih berlandaskan pada pembagian wilayah adat yang disebut Kutai — sebutan untuk kesatuan pemukiman yang dipimpin secara adat. Di Topos terdapat empat Kutai utama yang menjadi bukti keberlanjutan tatanan leluhur.

Masyarakatnya masih memegang teguh warisan Aksara Rejang Kaganga, bahasa Rejang, serta tradisi lisan yang menjadi identitas bangsa ini. Di tengah arus perubahan zaman, Topos tetap berdiri sebagai benteng tempat ingatan sejarah dijaga.

Dari Masa Lalu Menuju Masa Depan

Kini Topos adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lebong, dengan ibukota di Kelurahan Topos. Wilayahnya mencakup desa-desa seperti Talang Baru I, Talang Baru II, Talang Donok, Ajai Siang, Suka Negeri, Bandar Agung, dan kelurahan Topos sendiri. Sebagian besar warga bermata pencaharian di bidang pertanian dan perkebunan, terutama kopi dan padi, melanjutkan jejak kehidupan nenek moyang yang mencintai tanah kelahirannya .

Bagi SapuanRakyat.com yang lahir dari Desa Talang Baru II, Kecamatan Topos, mengangkat sejarah ini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan mengingatkan siapa kita sebenarnya. Topos bukan hanya nama di peta — ia adalah akar, ingatan, dan bukti bahwa dari tanah yang sederhana, lahir peradaban yang kuat.

“Topos berdiri bukan karena gemuruh dari luar, melainkan karena keteguhan dari dalam. Seperti pohon Topos yang tumbuh dari tongkat yang ditancapkan: diam, berakar, dan memberi keteduhan.”

📌 Sumber & Referensi:

  1. “Kampung Itu Pun Kemudian Bernama Topos” — Kompasiana, diakses 29 September 2026, menyajikan catatan sejarah berdasarkan tuturan tokoh adat Salim Senawar dan silsilah masyarakat Topos
  2. Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) — Profil wilayah adat Marga Jurukalang, mencatat sistem Kutai dan asal-usul masyarakat Rejang
  3. Buku “Sejarah Asal-Usul Komunitas Adat Rejang” — Kutai Tun Topos / Amarta, menuliskan tentang sistem Empat Ajai dan kedatangan para Bikau
  4. Media Center Kabupaten Lebong — Selayang Pandang Kabupaten Lebong, mencatat catatan John Marsden (1775–1779) tentang empat Petulai Rejang
  5. Buku “Empat Puluh Ton Emas dari Kampung Kami” — Erwin Basrin, menyinggung keterkaitan wilayah Topos dengan sejarah tambang dan penyebaran penduduk Lebong
  6. Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan — Cerita rakyat dan asal-usul nama Lebong serta sistem Empat Petulai
Iklan
Iklan setelah artikel

Tinggalkan komentar