Bengkulu,sapuanrakyat.com – Di tengah Kota Bengkulu, tepatnya di Jalan Rinjani, Kelurahan Jembatan Kecil, Kecamatan Singaran Pati, berdiri sebuah lembaga pendidikan yang menjadi saksi sekaligus pelopor perkembangan dunia pesantren di Provinsi Bengkulu. Itulah Pondok Pesantren Pancasila, pesantren pertama sekaligus tertua yang lahir setelah Bengkulu resmi menjadi provinsi tersendiri.
Lahir dari Perhatian Khusus Presiden
Pendirian Pondok Pesantren Pancasila tidak lepas dari perhatian khusus Presiden RI ke-2, Soeharto. Setelah Bengkulu ditetapkan sebagai provinsi baru pada tahun 1968, kebutuhan akan pusat pendidikan berbasis agama dan kebangsaan menjadi perhatian utama. Pada tahun 1971, Presiden Soeharto memberikan bantuan awal sebesar Rp50 juta untuk pembangunan fisik pesantren tersebut.
Nama “Pancasila” sendiri diberikan langsung oleh Presiden Soeharto. Pemilihan nama ini memiliki makna mendalam: pesantren ini didirikan bukan untuk berpihak pada kelompok atau golongan tertentu, melainkan berdiri di atas nilai-nilai luhur kebangsaan, menjaga persatuan, dan mencetak generasi yang cinta kepada agama sekaligus bangsa.
Kesepakatan Ulama dan Tokoh Masyarakat
Pondok Pesantren Pancasila lahir atas kesepakatan bersama para ulama, tokoh masyarakat, dan pemuka agama di Bengkulu, bukan berpusat pada satu tokoh pendiri semata. Beberapa nama yang tercatat turut merintis antara lain KH. Muhlasin, KH. Daroini, serta tokoh lainnya seperti KH. Yusuf Azis yang kemudian memimpin pada periode 1975–1984 dan H. Jamaan Nur.
Ada catatan yang menyebutkan proses pembangunan dan persiapan berlangsung hingga tahun 1973, sebelum akhirnya menerima santri perdana pada tahun 1974. Berdiri di atas lahan seluas sekitar 4,1 hektare, pesantren ini sejak awal dirancang sebagai lembaga yang menggabungkan pendidikan agama Islam dengan ilmu pengetahuan umum — sebuah pola yang saat itu menjadi terobosan baru di Bengkulu.
Menggabungkan Ilmu Agama dan Umum
Berbeda dengan pesantren tradisional pada umumnya, Pondok Pesantren Pancasila menyelenggarakan pendidikan yang memadukan kurikulum pesantren dengan pendidikan formal. Mulai dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, hingga Aliyah, serta setara SMP dan SMA. Tujuannya jelas: mencetak kader bangsa yang tidak hanya paham agama, tetapi juga mampu bersaing di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, serta siap melanjutkan ke perguruan tinggi maupun berkiprah di masyarakat.
Berkembang dan Tetap Kokoh Hingga Kini
Seiring berjalannya waktu, Pondok Pesantren Pancasila terus mengalami perkembangan. Pada tahun 2012, pesantren ini menerima dukungan melalui program Sekolah Berbasis Pesantren dari pemerintah. Kini, lembaga tersebut juga menjalin kerja sama dengan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dalam pengembangan pendidikan dan pengabdian masyarakat.
Pada April 2026, terjadi pergantian kepemimpinan di mana H. Muhammad Sahri — salah satu santri angkatan pertama — dilantik sebagai Direktur Pondok Pesantren Pancasila untuk periode 2026–2030, menggantikan KH. Paimat Sholihin. Dikelola oleh Yayasan Semarak Bengkulu, pesantren ini saat ini menampung sekitar 200 santri.
Meski telah berusia puluhan tahun, semangat pendiriannya tetap dijaga: menjadi tempat mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan menjunjung tinggi persatuan serta nilai-nilai luhur Pancasila.
Jejak Sejarah Ponpes Pancasila, Pesantren Pertama dan Tertua di Bengkulu
