Lebong,sapuanrakyat.com – Di hamparan pasir luas kawasan Dam Sabo, Kecamatan Bingin Kuning, Kabupaten Lebong, sebuah tradisi kuno masyarakat Suku Rejang kembali digelar. Muang Apem atau Kedurai Apam, ritual adat yang telah diwariskan turun-temurun, bukan sekadar seremonial tahunan — ia adalah jembatan penghubung antara masa lalu, masa kini, dan harapan akan masa depan.
Jejak Tras Mambang: Kisah Desa yang Tenggelam
Lokasi pelaksanaan Muang Apem di Pasir Lebar bukan dipilih begitu saja. Menurut cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat, kawasan tersebut dahulu merupakan permukiman makmur bernama Dusun Tras Mambang . Legenda menceritakan bahwa dusun ini lenyap ditelan bencana alam berupa semburan mata air besar yang disertai badai dahsyat, yang dipercaya berkaitan dengan peristiwa mistis tokoh sakti Tahta Sekilan Teguling Sakti.
Sejak itu, kawasan yang subur berubah menjadi hamparan pasir. Di tengah tempat tersebut, tumbuh sebatang pohon beringin berdaun kuning yang kini menjadi titik pusat pelaksanaan ritual. Warga dari empat desa — Semelako, Bungin, Pungguk Pedaro, dan Karang Dapo — meyakini diri mereka sebagai keturunan dari penduduk Tras Mambang yang selamat. Muang Apem pun digelar setiap tahun untuk mengenang leluhur sekaligus memohon perlindungan agar musibah serupa tidak terulang.
44 Kue Apem: Simbol Ampunan dan Persatuan
Unsur paling mencolok dalam ritual ini adalah penyediaan 44 buah kue apem yang disiapkan secara khusus. Jumlah ini memiliki makna simbolis yang mendalam:
- 4 kue apem berukuran besar — melambangkan persatuan empat desa pendiri
- 40 kue apem berukuran kecil — melengkapi keseluruhan hidangan ritual
Secara etimologis, kata “apem” dikaitkan dengan bahasa Arab afwun yang berarti ampunan atau pemaafan — permohonan maaf kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus pengingat kerendahan hati manusia. Kue-kue tersebut terlebih dahulu dibacakan doa oleh tetua adat, kemudian disebar dan diperebutkan warga sebagai bentuk berkah yang dibagi bersama .
Doa Menyambut Musim Tanam
Muang Apem dilaksanakan setiap tahun pada bulan Oktober, tepat menjelang musim tanam padi . Bupati Lebong H. Azhari, S.H., M.H., yang hadir langsung dalam pelaksanaan Kamis (15/10/2026) menjelaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar mengenang masa lalu.
”Ritual ini bukan sekadar rutinitas seremonial tahunan, melainkan fondasi spiritual dan budaya yang mengikat kita semua sebagai masyarakat Lebong. Muang Apem menjadi ikhtiar masyarakat memohon keselamatan dan keberkahan menjelang musim tanam padi,” ujar Bupati Azhari.
Pelaksanaannya menjelang musim tanam dimaknai sebagai harapan agar tanah kembali memberi hasil, padi tumbuh subur, dan terhindar dari hama serta bencana. Selain itu, tradisi ini mempererat kebersamaan antarwarga dari empat desa yang saling berbagi berkah .
Kearifan Lokal yang Tetap Hidup
Penelitian akademik mencatat bahwa Muang Apem mengandung nilai-nilai kepercayaan, gotong royong, dan kebersamaan lintas desa . Di tengah arus perubahan zaman, tradisi ini terus diupayakan pelestariannya — bukan hanya sebagai warisan budaya, melainkan sebagai identitas yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat agraris Kabupaten Lebong.
Dengan keterlibatan pemerintah daerah, tokoh adat, hingga masyarakat luas, Muang Apem tetap berdiri sebagai bukti bahwa menghormati masa lalu adalah cara terbaik untuk menyambut masa depan dengan harapan yang lebih baik.
Bupati H. Azhari Hadiri Kedurai Muang Apem, 44 Kue Jadi Simbol
